"Lo tau ga sih gimana rasanya berada pada lingkungan yang orang-orang didalamya sangat dekat secara emosional dan juga fisik, tapi lo? hanya sebatas fisik saja. Tau gimana rasanya?"
Saya benci saya ketika seperti ini Saya benci saya yang berperasangka buruk terhadap masa depan Saya benci saya yang tidak memiliki kepercayaan diri Saya benci saya yang menyesali hidup Saya benci saya yang selalu mengeluh Saya benci saya yang telah membuat orang lain kecewa Saya benci saya yang tidak bisa mengendalikan emosi Saya benci saya yang berpura-pura kuat Saya benci saya yang tidak berbuat apa-apa tolong tampar saya
In the gentle rhythm of my everyday life, I've found a surprising gratitude for its simplicity. As I immerse myself in the familiar routines—each day melding into the next—there’s an undeniable calm that wraps around me like a cozy blanket. While some might see it as mundane, I find joy in these moments, savoring the beauty in the ordinary. There's a special kind of peace in the routine, and for that, I am truly thankful And maybe, life is enough as it was.
Just reminder from and to my self: Dalam hidup ini, banyak sekali hal-hal yang terjadi, yang tidak sesuai dengan ekspektasi kita, meski kita sudah ikhtiar semaksimal mungkin. Karena itu, serahkan semua hasil pada Allah, tawakkal. Karena kalo kita memaksa terus, mental kita akan lelah. Too much heaviness in your heart. Just accept it and remember : Tak ada peristiwa yang terjadi, kecuali Allah mengizinkannya. Dan ketika Allah telah mengizinkannya terjadi, pasti Allah telah memberikan kebaikan di dalamnya. Tugas kita adalah mencari kebaikan dan hikmah dari peristiwa tersebut, sehingga kita bisa menemukan Allah di jalan pulang kita. Sehingga tidak ada yang namanya kesia-siaan
Komentar
Posting Komentar